Bogor, Maret 2025 – Direktorat Guru Pendidikan Dasar melaksanakan Kegiatan Penyusunan Modul Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan berbasis digital. Kegiatan ini melibatkan pejabat Kemendikdasmen, akademisi, dan pakar pendidikan nasional maupun internasional untuk merumuskan strategi pembelajaran inovatif berlangsung dari tanggal 20 sampai 22 Maret 2025 bertempat di Balai Guru Penggerak Provinsi Banten.
Acara dibuka dengan laporan dari Dr. Nita Isaeni, M.Pd., Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan Direktorat Guru Dikdas. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penyusunan modul untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Kebijakan ini bertujuan memperkuat kapasitas guru dalam mengintegrasikan teknologi di kelas serta mendorong pembelajaran yang lebih inovatif dan berbasis data.
Dilanjutkan oleh Dr. Meliyanti, S.Kom.M.Si., Kepala Subdit Peningkatan Kapasitas, Perlindungan dan Pengendalian Direktorat Guru Dikdas yang menjelaskan mengenai pembagian tugas dalam tim kerja transformasi pembelajaran. Ia menyampaikan bahwa kebijakan ini merupakan penguatan dari program sebelumnya dengan menambahkan elemen digitalisasi, terutama dalam implementasi pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial. Dalam kesempatan tersebut beliau menegaskan bahwa 16.000 satuan pendidikan akan bersiap untuk menerapkan coding, sementara 60.000 satuan pendidikan akan mengadopsi pembelajaran mendalam dalam tahun ajaran 2025/2026.
Direktur Guru Pendidikan Dasar, Dr. Rachmadi Widdiharto, M.A., secara resmi membuka kegiatan ini dengan menegaskan bahwa penyusunan modul PM dan KKA merupakan program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Beliau juga menyoroti upaya pemenuhan kualifikasi akademik bagi sekitar 249.000 guru yang belum memiliki gelar S1/D4. Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan skema bantuan dan bekerja sama dengan perguruan tinggi melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) guna mendukung peningkatan kualifikasi guru.
Staf Ahli Menteri Bidang Pendidikan, Dr. M. Muchlas Rowi, M.M.,, hadir untuk memberikan sambutan kegiatan. Beliau menyoroti pentingnya percepatan transformasi digital dalam pendidikan serta menegaskan bahwa implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di sekolah bukan hanya sebuah inovasi, tetapi kebutuhan yang harus segera diadaptasi agar siswa memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Lebih lanjut beliau menjelaskan AI bukan ancaman bagi pendidikan, melainkan alat yang dapat membantu personalisasi pembelajaran, menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan siswa secara lebih efektif namun guru tetap memiliki peran sentral dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, kesiapan guru dalam memahami dan memanfaatkan teknologi AI serta pendekatan pembelajaran mendalam sangat diperlukan.
Pada kesempatan tersebut, beliau juga menyinggung pengalaman negara lain, seperti Thailand, yang telah mengintegrasikan coding dan AI dalam kurikulumnya sejak beberapa tahun lalu atas instruksi langsung dari pemerintah. Indonesia, meskipun mengalami keterlambatan dibanding negara-negara lain, tetap memiliki peluang besar untuk mengejar ketertinggalan melalui kebijakan berbasis data dan program pelatihan guru yang berkelanjutan.
Mengakhiri sambutannya, beliau menegaskan bahwa pengembangan AI dan coding dalam pendidikan Indonesia akan menjadi investasi besar bagi masa depan, menciptakan generasi yang lebih inovatif, berpikir kritis, dan siap menghadapi tantangan global.
Dalam kegiatan tersebut juga menghadirkan narasumber dari INOVASI yaitu Rob Randall, seorang pakar pendidikan dari Australia yang menyampaikan materi mengenai Deep Learning (Pembelajaran Mendalam). Ia menegaskan bahwa Deep Learning bukan sekadar konsep baru, tetapi merupakan strategi pembelajaran yang lebih bermakna dan efektif dalam membantu siswa memahami, menghubungkan, serta menerapkan pengetahuan secara lebih mendalam.
Lebih lanjut Rob menjelaskan bahwa dalam sistem pendidikan modern, banyak sekolah masih terjebak dalam pola pembelajaran permukaan (surface learning) yang berfokus pada hafalan dan pemahaman dasar. Deep Learning bertujuan untuk membawa siswa ke tingkat pemahaman yang lebih dalam, di mana mereka tidak hanya memahami suatu konsep, tetapi juga mampu mentransfer dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam berbagai situasi kehidupan nyata.
Dalam kesempatan tersebut, Rob juga mengajak peserta untuk berdiskusi dan brainstorming terkait Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) dan implementasinya serta beberapa permasalahan pembelajaran yang dihadapi oleh para guru.
Kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam mendukung kebijakan transformasi pendidikan di Indonesia. Dengan penyusunan modul PM dan KKA, diharapkan guru dapat lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran berbasis digital dan memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif serta bermakna bagi siswa.
[Baca Juga: Konsep dan Implementasi Deep Learning oleh Rob Randall]